Metode Outbound Training



Beberapa Metode Outbound yang kami lakukan agar kegiatan outbound training yang dilaksanakan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Diantaranya adalah:
Interview. Ini perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran profil dari peserta outbound. Jangan sampai nantinya permainan super keras diterapkan kepada orang yang punya penyakit tertentu misalnya. Selain itu juga agar instruktur tidak terkaget-kaget di lapangan manakala karakter asli dari peserta muncul.
Variasi permainan yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan perusahaan guna memajukan potensi SDM. Ini juga penting dan mesti disesuaikan dengan kondisi (Bukan berarti simulasi kerjasama ini tidak bisa dimainkan di dalam ruangan loh). Semakin pandai seorang instruktur merancang suatu permainan, yang dapat mensimulasikan kerjasama antar anggota tim, semakin besar kemungkinan keberhasilan dari kegiatan outbound training tersebut.
Komunikasi. Saat kegiatan outbound training berlangsung, harapannya karakter yang biasa digunakan para peserta selama di tempat kerja, karakter itulah yang digunakan. Nantinya bisa jadi akan timbul konflik dan bisa jadi masalah dalam komunikasi. ini akan menarik bila masih bisa dilakukan kompromi dari hasil komunikasi yang berlangsung. Bila dari hasil komunikasi yang terjadi tidak mendapatkan hasil yang benar2 produktif, maka bisa jadi ada (satu atau lebih) karakter yang boleh dibilang kurang cocok untuk ditempatkan dalam tim. Untuk itulah perlu dilakukan perubahan karakter. Misal, yang tadinya pemarah harus dikurangi marah nya. Yang pendiam harus diajak atau diberi peluang untuk bisa mengungkapkan apa yang dianggapnya baik untuk tim.
Dan bila terjadi perubahan berupa peningkatan produktifitas tim tersebut dari yang semula tidak produktif atau kurang produktif, maka karakter baru itulah yang nantinya dapat digunakan dalam lingkungan kerja sehari-hari. Karena mappingnya boleh dikatakan udah benar. Namun bila dianggap ada pemarah dan ada pendiam tapi tetap dianggap produktif. Malah justru sarannya adalah.. peliharalah sifat marah dari pemarah dan sifat pendiam dari si pendiam karena mappingnya sudah benar.
Personil yang memiliki karakter yang kurang cocok dalam tim tersebut karena tidak ditemukannya mapping  yang benar, mungkin bisa ditempatkan di tim yang lain yang lebih cocok untuknya (selain kemudian bisa di-training pelan-pelan agar karakternya bisa berubah ke arah yang diharapkan. Tapi terlepas dari suka atau tidak suka dari keputusan yang diambil, harapannya ke depan akan memberi keseimbangan dalam tim di kemudian harinya.
Back To Top